Seperti apa tinggal di sebuah tempat yang dikenal karena pemandangannya... dan keriuhannya? Penduduk di sebagian kota yang paling dikunjungi mengungkapkan bagaimana mereka menemukan kesunyian- dan mengapa mereka suka tinggal di sana.
Catatan editor: Daftar berikut merupakan daftar lima kota besar dalam Indeks Kota-kota yang menjadi dalam Indeks Kota-kota Tujuan Global, MasterCard 2014. Daftar 2015 sebagian besar tidak berubah.
Atraksi umum yang menyebabkan orang suka mengunjungi sebuah kota - restoran papan atas, kehidupan malam, lingkungan yang beragam, pemandangan yang ikonik - dapat memikat mereka untuk tinggal dalam jangka waktu yang lama.
Faktanya, banyak kota-kota yang paling banyak dikunjungi di dunia, juga merupakan tujuan yang populer bagi ekspatriat.
Tetapi menjadi warga di kota-kota yang paling dikunjungi di dunia bukan tanpa seperangkat tantangan yang unik. "Datang dari kota yang lebih kecil di Kanada, pertama kali saya sangat kawalahan dengan bagaimana padatnya wilayah-wilayah tertentu di Paris," kata Erika Belavy, yang pindah dari kota Calgary, Alberta, ke Paris tujuh tahun lalu.
"Ketika pertama kali pindah ke kota ini, saya membuat kesalahan dengan memilih apartemen persis di samping Arc de Triomphe. Tak peduli jam berapa setiap hari, atau bulan apa setiap tahun, turis selalu begitu banyak, dan itu mimpi buruk jika hendak mencapai stasiun kereta bawah tanah."
Tetap saja, hal itu tidak perlu waktu lama bagi warga untuk belajar menjelajahi keramaian dan menemukan tempat-tempat terpencil.
Kami berbicara dengan ekspatriat dan penduduk asli untuk mengetahui seperti apa tinggal di kota yang paling banyak dikunjungi di dunia - dan rahasia untuk menjauh dari keramaian yang tak kunjung henti.
London
Ibu kota Inggris Raya menjadi kota yang paling banyak dikunjungi pada tahun 2014, dengan 18,7 juta wisatawan internasional.(Mastercard menggabungkan statistik badan pariwisata, jadwal pesawat dan perkiraan beban penumpang yang akan datang pada tahun itu).Penduduk asli kota London, Sophie Loveday mengatakan dia sulit untuk menyadari gelombang turis itu. "Anda akan jadi terbiasa dengan begitu banyak orang di sekitar Anda," kata dia. "Itu yang menyebabkan kota ini jadi begitu riuh!"
Namun, dia akan berani menembus keramaian Covent Garden, sebuah kawasan belanja di West End, karena toko-tokonya yang unik dan sentuhan modern. Brick Lane di London Timur juga merupakan tempat yang layak dikunjungi, meskipun "penuh manusia," makanan kari khas India di sana mungkin merupakan yang terbaik di Inggris, dan restoran serta warung makan yang berjejer memudahkan kita untuk mencari makan.
Selalu ada lingkungan (yang disebut distrik) yang cocok untuk hawa tertentu. Loveday dinggal di distrik barat daya Tooting, karena hawa multikulturalnya dan gelombang profesional muda yang membuat area itu menjadi hidup. Dia juga merekomendasikan Angel, di utara London, karena suasananya yang 'asik dan ramah.'
Bangkok
Terkait protes politik dan penghentian pemerintah Thailand pada 2013, Bangkok merosot ke urutan dua dalam peringkat global tahun 2014, tetapi masih menarik wisatawan asing sebanyak 16,4 juta orang pada 2014.
Untungnya, warga mengatakan, gelombang turis bersifat musiman, dengan sebagian besar pengunjung datang saat November hingga Februari. Ketsara Chocksmai, seorang penduduk asli dan direktur tur untuk perusahaan smarTours Thailand mengatakan dia merasa kota Bangkok sangat menyenangkan mulai Juni sampai September.
"Ini musim hujan bagi kami, jadi tak banyak turis yang berkunjung pada periode itu," kata dia. Tetapi karena hujan tidak terjadi setiap hari, penduduk lokal tetap bisa menikmati suasana berada di luar rumah.
Paris
Ibukota Prancis ini diperkirakan menarik 15,6 juta turis pada 2014 lalu, banyak dari mereka tersedot ke berbagai tempat ikonik seperti Menara Eiffel, Notre Dame dan Louvre.Tetapi area itu secara umum dihindari oleh penduduk lokal. “Dibayar berapapun, saya tidak akan mau pergi ke Champs Élysées pada pertengahan bulan Agustus," kata Christina Tubb, wakil presiden di sebuah perusahaan teknologi di Prancis yang pindah dari AS pada 2009 lalu.
"Saya tetap merasakan sensasi dan melakukan banyak kegiatan turistik karena hal itu tetap merupakan setengah dari alasan saya tinggal di sini," kata dia.
Di bulan-bulan musim panas akan sangat padat, namun Quartier Latin juga memiliki restoran-restoran yang bisa jadi tempat pengungsian, jika Anda tahu tempatnya. "Ada jalan-jalan tertentu yang dipadati turis , tetapi tepat di sudut jalan akan ada restoran atau cafe yang dianggap sebagai sebuah lambang di lingkungan itu dan tidak mengalami perubahan sejak tahun 20an," kata Belavy. Baik Tubb dan Belavy juga seringkali mengunjungi Le Marais karena di sana banyak toko-toko yang menjual barang-barang khusus, yang kata Belavy, “pesonanya melebihi tingkat stres dalam kerumunan di sana."
Terlepas dari ukurannya yang besar, Paris memiliki 20 arrondissements, seperti kecamatan yang masing-masing memiliki suasana pemukiman yang khas. Arrondissements 10 yang pernah tak terpelihara sekarang kembali hidup, menarik anak-anak muda dengan bar, galeri seni dan Canal St Martin dengan jaluran pepohonanya; arrondissements 3 dan 9 juga menarik bagi kaum bohemian.
Mereka yang mencari sesuatu yang lebih tenang dapat menjelajahi kawasan 15, sebuah area permukiman di bagian selatan Sungai Seine yang merupakan kawasan kaum kelas menengah ke atas, atau daerah 16 atau 5, yang terkenal dengan sekolah-sekolah bermutu.
Singapore
Sebuah pulau, sekaligus negara dan kota, Singapura menarik pemukim dan turis dari seluruh dunia, dan juga mendapatkan manfaat karena menjadi jangkar bagi banyak pengunjung yang bepergian ke kota lain di negara-negara Asia Tenggara. Lalu lintas perjalanan internasional dan lokal berkontribusi pada kemacetan di kota.Bandara Changi yang bersih dan efesien memudahkan para penduduk untuk pergi ke lebih dari 200 tujuan internasional.
“Singapura memiliki bandara terbaik yang pernah saya kunjungi dan saya telah pergi ke lebih dari 60 negara," kata Bhandari.“Murah dan mudah untuk terbang ke dan dari sini." Kebun Raya Singapura juga menawarkan tempat yang tenang untuk penduduk lokal dan turis kata Amy Greenburg, seorang editor pada Expat Living Singapore yang pindah dari Los Angeles dua setengah tahun yang lalu. “Itu seperti Central Park bai New York,” kata dia.
Kawasan ekspatriat yang populer lainnya termasuk River Valley, Holland District dan Tanglin, yang merupakan pusat bisnis dan memiliki banyak toko. Sedangkan yang lebih bernuansa permukiman adalah East Coast. Robert Shen, seorang wakil presiden pengembangan bisnis untuk perusahaan desain mewah Wilson Associates, yang pindah dari Los Angeles tujuh tahun lalu, tinggal di area Geylang.
"Itu dipertimbangkan karena 'di tepi kota' Jadi cukup dekat dengan kota, pantai, transportasi publik dan makanan lokal yang enak," kata dia. Daerah Geylang secara perlahan menjadi lebih dan lebih hip bagi warga lokal dan ekspatriat."
Dubai
Pada kecepatan peningkatan pengunjung seperti itu kota ini akan mengambil alih Paris dan Singapura, menjadi kota ketiga yang paling banyak dikunjungi dalam waktu kurang dari lima tahun.
Di tengah kepadatan itu, penduduk dapat membuat jadwal yang penuh penyesuaian. "Kami memilki rutinitas pada akhir pekan untuk memastikan bahwa kami keluar dari mal pada sore hari, ini untuk menghindari turis, dan penduduk lain juga," kata Emily Christensen, direktur rekrutmen di perusahaan H30 International, yang pindah ke Dubai dari Inggris sejak 14 tahun lalu.
Pusat keramaian Dubai, dengan atraksi seperti seperti Burj Khalifa (gedung tertinggi di dunia) dan Dubai Mall, sangat sesak pada sore dan malam hari, jadi warga lokal menghindarinya pada jam-jam itu kecuali jika mereka hendak makan. Untuk berjalan-jalan di dalam kota, Christensen menuju ke Taman Safa, hanya sekitar 6km dari pusat kota Dubai.
"Di sana ada taman bermain, ada cafe, kereta kayuh, berperahu di danau dan ruang terbuka - dan sangat jarang turis kecuali mereka berkunjung ke rumah warga," kata dia. Para warga lokal juga kumpul-kumpul sambik memanggang daging, bermain cricket atau berlatih yoga.
Andrea Anastasiou, yang tinggal di Dubai selama tujuh tahun dan menulis blog perjalanan Scribble, Snap, Travel, juga mengatakan mereka yang mencari "Dubai yang otentik" harus menjelajahi distrik bersejarah Bastakiya, 12m dari pusat kota Dubai.
"Itu merupakan labirin jalanan yang sempit seperti masa lampau Dubai ketika masih kumuh,” kata dia. "Area Ini penuh dengan karakter; bangunan-bangunan berasal dari era lampau sebelum listrik dan AC, dan dulunya mengupayakan pendinginan udara dengan menara-menara angin.
”Area bohemian juga sudah memugar rumah-rumah dan cafe yang cantik."
Christensen dan banyak ekspatriat lain yang tinggal di peternakan khas Arab, yang berjarak 24km di bagian selatan pusat kota. Sebagai salah satu dari tempat pertama yang memungkinkan ekspatriat membeli properti, cenderung dipadati oleh keluarga dan anak-anak.
Mereka yang mencari kawasan yang lebih banyak dihuni oleh para lajang dan pasangan muda harus melihat Dubai Marina, yang penuh hotel, bar dan restoran.
Disebutkan, “beberapa bagian dari Marina itu masih bisa bising oleh suara-suara konstruksi, jadi anda harus hati-hati ketika mencari tempat tinggal," kata Carrie Brummer, seorang seniman Amerika yang tinggal di Dubai dari tahun 2007 sampai 2013.
Sebagian tinggal di Dubai dengan visa kerja yang terbatas dan hampir tak mungkin menjadi warga negara.
Kondisi itu yang menyebabkan sulit untuk mendapatkan rasa memiliki di kota tersebut, tetapi penduduk lokal mengatakan mudah untuk menemukan orang orang ramah yang ingin bergaul.
Anda bisa membaca artikel aslinya dalam Living in: The world's most visited cities atau artikel lain dalam ( BBC )
